Menu Tutup

Front end vs Back end jika dianalogikan sebagai Meja dan Dapur di Restoran

Jika kamu pernah mengunjungi restoran, maka kamu dapat memahami perbedaan antara front-end dan back-end dalam pengembangan web. Ketika kita baru memulai untuk mempelajari pengembangan web, kita akan menemukan serangkaian konsep yang benar-benar membuat kita kewalahan

Databases? Servers? Client-side? Server-side? AJAX?

Untungnya, kamu hanya perlu memahami HTML dan CSS untuk membangun situs web pertama kamu, dan kamu dapat melakukannya secara lokal di komputer kamuTetapi jika kamu ingin mengetahui bagaimana situs kamu akhirnya dapat benar-benar tayang secara langsung di web atau dunia maya, kamu perlu memahami konsep front-end vs back-end.

Berikut ide umumnya: seperti pelayan dan staf dapur yang ada di restoran, front-end dan back-end membagi fungsi situs kamu. Ini memungkinkan setiap pihak untuk melakukan keahlian mereka masing-masing

Misalnya Staf Dapur, yang memasak makanan berkualitas tinggi secara efisien. lalu ada Pelayan yang mengantarkan, yang ahli dalam menghadapi pelanggan demi menciptakan pengalaman dan kesan baik terhadap pelanggan.

Dalam pengembangan web, front-end juga terkadang disebut client-side, sementara back-end juga disebut server-side.
Berikut adalah peranan yang membedakan teknologi yang digunakan di Front-end vs Back-end dari sebuah Web App. Untuk memahami tutorial ini, kamu hanya perlu memahami dasar-dasar HTML dan CSS.

Perkenalan dengan Front-End

Mari kita lihat bagian depan terlebih dahulu. Kode front-end menciptakan antarmuka pengguna, cara terstruktur bagi pengunjung web untuk berinteraksi dengan kode kamu. Dalam contoh kami, itu adalah meja di dalam restoran kamu – tempat di mana interaksi yang terkontrol terjadi antara pelanggan dan staf restoran. Jadi, pikirkan meja di restoran sebagai situs web, seperti //mysite.com.

Pertama, pengguna (atau pelanggan) membutuhkan sesuatu yang dapat mereka telusuri. Dalam penataan restoran, ini adalah menu, tentu saja! Ini adalah konten statis yang seharusnya memudahkan pelanggan untuk memahami pilihan mereka. Dari perspektif pengembang front-end, ini mirip dengan HTML dan CSS. Kedua bahasa ini memungkinkan kamu untuk membuat konten statis.


Tetapi ada satu hal yang jelas-jelas hilang. kamu tidak bisa berteriak kepada menu dan mengharapkan sesuatu terjadi! kamu perlu cara untuk menyampaikan pesanan itu kepada staf dapur.

Di sinilah pelayan datang. Pelayan baik yang lelaki maupun perempuan dapat membantu kamu memahami menu, menjawab pertanyaan, dan kemudian mengambil pesanan kamu ke staf dapur. Mereka ahli dalam interaktivitas – memahami apa yang ingin kamu lakukan. Disinilah JavaScript masuk

Sebagai pengembang, JavaScript akan membantu kamu mencapai banyak sasaran. Ini dapat memberi pengguna pengalaman hebat di laman web, dan membantu mereka menemukan informasi yang tepat. Ini juga bahasa yang digunakan untuk mengirim permintaan pengguna ke back-end. Dengan kata lain, ketika kamu menulis JavaScript, itu tidak otomatis berarti kamu mengkomunikasikan sesuatu ke back-end. JavaScript adalah bagian dari front-end, dan dapat menyelesaikan banyak masalah tanpa harus berbicara dengan back-end.

Saya merangkum kedua bagian dalam proses memilih makanan. Ketika pengguna tiba di situs kamu, mereka memiliki tujuan dalam pikiran. Kode kamu harus membantu mereka mencapai tujuan tersebut.
1. Mereka harus dapat dengan cepat menelusuri untuk melihat apa yang kamu tawarkan (HTML / CSS)
2. Mereka harus dapat dengan cepat menemukan lebih banyak sumber daya yang akan membantu mereka membuat keputusan (Interaktivitas / JavaScript)
3. Mereka harus dapat mengambil tindakan yang akan mengarahkan mereka lebih dekat ke tujuan mereka (Permintaan Pengguna / JavaScript)

Perkenalan dengan Back-end

Apakah kamu pernah berada di dapur restoran? Ini adalah lingkungan dengan tingkat stres yang tinggi. lingkungan ini benar-benar berbeda dari yang dilihat pelanggan. Bisa dibilang bahwa pelayan sangat ramah dan menu yang tersedia diformat jauh lebih sempurna dari apa yang terjadi di dapur, tanpa mengungkapkan proses apa pun yang terjadi di dapur.

Ini mirip dengan back-end aplikasi web kamu, atau kode yang berjalan di server-side (sisi server). Sama seperti dapur, server berada di lokasi yang berbeda dari antarmuka pengguna. Ini menggunakan bahasa yang berbeda untuk berkomunikasi.

Karena server adalah sebuah komputer di lokasi yang jauh / remote, ia memiliki lebih banyak daya komputasi daripada peramban di komputer apa pun. Mirip seperti staf dapur, fokusnya adalah pada efisiensi dan produktivitas.

Pikirkan tentang kerumitan dapur restoran. yang harus memiliki semua bahan di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Semua staf harus mengetahui pekerjaan mereka pada suatu titik tertentu. Dan mereka harus menghasilkan makanan yang sama dengan kualitas yang sama berulang kali. Demikian pula, server harus mengatur data dari aplikasi web kamu untuk mengirim respons yang tepat pada waktu yang tepat.

Server harus mengirim respons setiap kali menerima permintaan. Dalam kasus restoran, respons ini bisa berupa:
– Makanan
– Pemberitahuan bahwa dapur sudah kehabisan stok untuk makanan itu
– Pertanyaan lanjutan yang tidak ditanyakan oleh pelayan

Apa pun itu, respons dari dapur (server) kepada pelanggan akan diantarkan melalui pelayan. Itu adalah kode JavaScript.
Bahasa-bahasa dan Framework back-end populer termasuk Ruby, Ruby on Rails, node.js, PHP dan banyak lagi yang lainnya.

Kenapa kita membutuhkan Back-end & Front-End, keduanya.

Berikut adalah alasan praktis kenapa kita harus menjalankan kode yang berbeda pada sisi klien dan sisi server. Browser standar hanya mengerti HTML, CSS dan JavaScript. Itulah salah satu alasan mudah mengapa kita tidak dapat menggunakan bahasa sisi server ke dalam browser.

Alasan lainnya adalah kita mengizinkan setiap pihak untuk fokus pada tantangan unik untuk ditangani oleh mereka berdasarkan kualifikasi masing-masing. Bisakah kamu bayangkan jika koki harus menggantikan para pelayan? Ini akan menjadi pengalaman pelanggan yang jauh lebih buruk! Jadi, kita beruntung jika kita memiliki satu sisi khusus untuk antarmuka pengguna, dan satunya lagi khusus dalam menangani sisi server.

Situs-situs yang hanya menggunakan Front-End

Bayangkan kamu memiliki bisnis yang tidak menjual apa pun secara online. Katakanlah kamu memiliki toko bunga lokal. Dalam hal ini, kamu tidak memerlukan back-end karena tidak ada perhitungan yang rumit. Kamu hanya perlu front-end, dan mungkin formulir kontak yang dapat mengarahkan segala pertanyaan ke kotak masuk email kamu.

Dengan kata lain, beberapa situs hanya dimaksudkan untuk menjelajahi dan mengambil tindakan singkat yang tidak perlu ditangani lebih lanjut. Kamu tidak perlu menulis back-end untuk setiap jenis situs. Kamu dapat menggunakan Github Pages untuk menempatkan front-end khusus secara langsung di web jika kamu tidak memerlukan back-end.

Article Source   : CodeAnalogies.Com

Translate & Proofread : Maksum Rifai

BACKEND, FRAMEWORK, FRONTEND, HOSTING, VPS, WEBSITE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *